قال شيخ الإسلام ابن تيمية-رحمه الله-:
◆•✿•◆فَإِنَّ حَقِيقَةَ التَّوْحِيدِ أَنْ نَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ،
فَلَا يُدْعَى إِلَّا هُوَ،
وَلَا يُخْشَى إِلَّا هُوَ،
وَلَا يُتَّقَى إِلَّا هُوَ ،
وَلَا يُتَوَكَّلُ إِلَّا عَلَيْهِ،
وَلَا يَكُونُ الدِّينُ إِلَّا لَهُ، لَا لِأَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ،
وَأَنْ لَا نَتَّخِذَ الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا،
فَكَيْفَ بِالْأَئِمَّةِ وَالشُّيُوخِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْمُلُوكِ وَغَيْرِهِمْ؟!!!◆•✿•◆
[منهاج السنة النبوية في نقض كلام الشيعة القدرية 3/490].
Read More..
Featured Posts
Rabu, 10 Juli 2013
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Rabu, Juli 10, 2013
Seorang Guru Pengabdian bertitel
sarjana, menyelesaikan studinya bertahun-tahun lamanya. Pengorbanan yang tak
sedikit ia berikan untuk gapai cita. Dengan harapan bisa merajut asa. Namun,
apa yang mau dikata, ketika lulus kuliah harus mengabdi di SD atau SMP dengan
gaji per bulan berkisar Rp.75.000, 100.000, 150.000, 200.000 dst. Gaji yang
mungkin untuk biaya transport saja tidak cukup. Memang benar, apa kata Dr.
Adian Husaini bahwa seorang guru itu tidak selayaknya hanya mau mengajar ketika
ada bayaran. Namun, beliau juga menyampaikan bahwa seorang Guru itu berhak
mendapatkan kehormatan (“honor”) yang layak[1]. Belum lagi dengan gaji sebesar
itu tanggung jawab yang dibebankan tidak sebanding dengan upah yang didapat. Belum
lagi dimarahi Kepala Sekolah, dikomplain orangtua siswa dsb.
Read More..
Sabtu, 18 Mei 2013
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Sabtu, Mei 18, 2013
Alkisah ada seorang anak TK yang baru belajar mengenal huruf, angka dan warna dari gurunya. Anak tersebut sangat senang dan bangga bisa bersekolah di satu-satunya TK dikampungnya, dimana hanya sedikit dari anak-anak seusianya yang bisa bersekolah ditempat tersebut. Dia menganggap hal tersebut merupakan karunia besar. Hari demi hari ia lalui dengan semangat belajar menghitung, mengeja huruf dan membedakan warna satu dengan lainnya. Suatu saat sang guru pujaannya dan sangat diidolakannya mengajarkan kombinasi percampuran warna. Sang guru mencampurkan cairan air warna merah dengan warna biru, sehingga menghasilkan warna lain yaitu ungu. Dan hal tersebut juga dilakukan pada warna-warna dasar lain. Sang guru beberapa kali menegaskan bahwa cairan tersebut tidak berbahaya karena campuran air dengan pewarna alami. Sang murid kecil pun girang dan mengangguk-angguk tanda dia paham dan gembira. Dia dan teman-temannya pun melakukan hal yang sama yang dicontohkan gurunya.
Read More..
Jumat, 17 Mei 2013
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Jumat, Mei 17, 2013
Catatan pulang pengajian
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat : وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Yang artinya: “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatku dengan harga yang rendah.” (Al Baqarah:41). Beliau membawakan pendapat para imam tentang makna ayat tersebut dan beliau juga menjelaskan maknanya dengan pendapat berikut:
وفي سنن أبي داود عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يرح رائحة الجنة يوم القيامة وأما تعليم العلم بأجرة ، فإن كان قد تعين عليه فلا يجوز أن يأخذ عليه أجرة ، ويجوز أن يتناول من بيت المال ما يقوم به حاله وعياله ، فإن لم يحصل له منه شيء وقطعه التعليم عن التكسب ، فهو كما لم يتعين عليه ، وإذا لم يتعين عليه ، فإنه يجوز أن يأخذ عليه أجرة عند مالك والشافعي وأحمد وجمهور العلماء ، كما في صحيح البخاري عن أبي سعيد في قصة اللديغ : إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله وقوله في قصة المخطوبة : زوجتكها بما معك من القرآن فأما حديث عبادة بن الصامت ، أنه علم رجلا من أهل الصفة شيئا من القرآن فأهدى له قوسا ، فسأل عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إن أحببت أن تطوق بقوس من نار فاقبله فتركه ، رواه أبو داود وروي مثله عن أبي بن كعب مرفوعا ، فإن صح إسناده فهو محمول عند كثير من العلماء منهم : أبو عمر بن عبد البر على أنه لما علمه الله لم يجز بعد هذا أن يعتاض عن ثواب الله بذلك القوس ، فأما إذا كان من أول الأمر على التعليم بالأجرة فإنه يصح كما في حديث اللديغ وحديث سهل في المخطوبة ، والله أعلم .
Read More..
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat : وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Yang artinya: “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatku dengan harga yang rendah.” (Al Baqarah:41). Beliau membawakan pendapat para imam tentang makna ayat tersebut dan beliau juga menjelaskan maknanya dengan pendapat berikut:
وفي سنن أبي داود عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يرح رائحة الجنة يوم القيامة وأما تعليم العلم بأجرة ، فإن كان قد تعين عليه فلا يجوز أن يأخذ عليه أجرة ، ويجوز أن يتناول من بيت المال ما يقوم به حاله وعياله ، فإن لم يحصل له منه شيء وقطعه التعليم عن التكسب ، فهو كما لم يتعين عليه ، وإذا لم يتعين عليه ، فإنه يجوز أن يأخذ عليه أجرة عند مالك والشافعي وأحمد وجمهور العلماء ، كما في صحيح البخاري عن أبي سعيد في قصة اللديغ : إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله وقوله في قصة المخطوبة : زوجتكها بما معك من القرآن فأما حديث عبادة بن الصامت ، أنه علم رجلا من أهل الصفة شيئا من القرآن فأهدى له قوسا ، فسأل عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إن أحببت أن تطوق بقوس من نار فاقبله فتركه ، رواه أبو داود وروي مثله عن أبي بن كعب مرفوعا ، فإن صح إسناده فهو محمول عند كثير من العلماء منهم : أبو عمر بن عبد البر على أنه لما علمه الله لم يجز بعد هذا أن يعتاض عن ثواب الله بذلك القوس ، فأما إذا كان من أول الأمر على التعليم بالأجرة فإنه يصح كما في حديث اللديغ وحديث سهل في المخطوبة ، والله أعلم .
Read More..
Rabu, 01 Mei 2013
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Rabu, Mei 01, 2013
Tafsir Surat Al Qadr
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)
Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa Dia
menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadr
adalah malam yang penuh berkah sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman: إنا أنزلناه في ليلة مباركة "Kami telah menurunkan
Al-Qur'an ini pada malam yang penuh berkah." (Ad Dukhan:3), dan malam itu adalah malam yang penuh
kemuliaan dan malam Lailatul Qadr ada pada bulan Ramadhan, sebagaimana
Allah Ta’ala berfirman شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Qur'an.” (Al Baqarah:185)
Read More..
Selasa, 30 April 2013
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Selasa, April 30, 2013
oleh Ustadz Fuad Al Hazimi
Diriwayatkan bahwa seorang pendeta Bani Israil pernah bermunajat kepada Allah seraya berkata :
يا رب ! كم أعصيك ولا تعاقبني ؟
“Ya Allah betapa banyak aku telah bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak sedikit pun menimpakan balasan atas diriku”.
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang diutus saat itu :
كم أعاقبك وأنت لا تدري ، أليس قد حرمتك حلاوة مناجاتي ؟
“Katakan kepadanya : “Betapa besarnya balasan yang telah Aku timpakan kepadamu, sedangkan engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mengharamkan bagimu manisnya beribadah kepada-Ku, sehingga engkau tak pernah lagi merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku”.
(Hilyatul Auliya’ : Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 10 halaman 168)
Read More..
Diriwayatkan bahwa seorang pendeta Bani Israil pernah bermunajat kepada Allah seraya berkata :
يا رب ! كم أعصيك ولا تعاقبني ؟
“Ya Allah betapa banyak aku telah bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak sedikit pun menimpakan balasan atas diriku”.
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang diutus saat itu :
كم أعاقبك وأنت لا تدري ، أليس قد حرمتك حلاوة مناجاتي ؟
“Katakan kepadanya : “Betapa besarnya balasan yang telah Aku timpakan kepadamu, sedangkan engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mengharamkan bagimu manisnya beribadah kepada-Ku, sehingga engkau tak pernah lagi merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku”.
(Hilyatul Auliya’ : Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 10 halaman 168)
Read More..
Senin, 29 Oktober 2012
Diposting oleh
Muhammad Fikri Hidayatullah
Senin, Oktober 29, 2012
Ustadz Romi Satria Wahono berkata: "Nak, ketika masa SMA, saya belajar disiplin, kerja keras dan
kepemimpinan ... lulus SMA saya berkeliling belajar ke banyak guru, mereka
mengajarkan saya aqidah yang kokoh, akhlak yang mulia, keikhlasan,
enterpreneurship, karakter kepemimpinan yang bersih, dan perdjoeangan untuk
menolak bernegosiasi dengan kebatilan ... ketika mulai bekerja, saya terapkan
semua yang saya pelajari tanpa basa-basi, saya berdjoeang melawan kebatilan
bukan hanya dengan hati tapi juga mulut dan tangan... saya tinggalkan semua
karir saya demi mempertahankan kebenaran, saya juga terpaksa meninggalkan
guru-guru saya karena mereka ternyata tidak konsisten dengan apa yang mereka
ajarkan dulu, mereka mulai mau bernegosiasi dengan kebatilan, mereka
bekerjasama dengan semua yang dulu mereka lawan, demi suatu kekuasaan ... Nak,
kuingin kau tahu, yang Diatas tidak pernah tidur melihat pasukannya berdjoeang,
karena itu janganlah pernah merasa takut, saya juga tidak pernah miskin karena
berdjoeang melawan kebatilan, bersumpahlah Nak, di saat sekarang dan di masa
depan ... janganlah sudi bernegosiasi dengan kebatilan dan lawanlah mereka dengan
tangan!"
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)